Kiai Dadakan
Hujan, terdengar deras sekali malam ini. Air anugerah dari langit itu menciptakan suasana lebih semangat lagi bagi saya untuk semakin memeluk bantal. Menarik selimut sekencang mungkin, seraya kaki menahan lalu membungkuk. Nikmat sekali. Suasana riuh hujan itu membekukan segala aktifitas saya, meski untuk sekedar membuat kopi.
Geludduar. ðŸ˜¬ Tiba-tiba saja badai petir menggila di atas pondok loteng. Kontan semua orang terkejut. Tak terkecuali saya, bayangan wajah seseorang yang tersenyum itu hilang seketika. Sepertinya, bila memperhatikan suara yang begitu dekat, sambaran gledek sudah menghantam dengan begitu murkanya terhadap pohon kelapa. Ya. Suara itu sangat mengarah pada pohon yang menjulang tinggi sebelah barat pondok. Membahana dan terdengar sangat murka. puas sekali. Barangkali pohon kelapa yang tidak tahu-menahu kesalahannya hanya diam, dengan pucuk menggosong.
Selepas kejadian itu hanya bunyi-bunyi kecil gluduk yang jauh di ujung sana, tinggal kilatan biru-biru putih membias di kaca jendela. Saya pun menggeliat ke posisi semula.
Sialnya, disamping saya, Bang Luky, sedang memberi mauidzah kepada teman-teman pengurus lain. Layaknya tokoh mursyid thariqoh, semua hadirin yang menghadap pemuda dari sungai kunyit itu mendengarkan begitu khidmat wejangan sang kiai dadakan.
"Dunia sudah tua. Kalian jangan hanya berhayal. Kalian tahu, bahwa Dajjal sudah keluar!" Katanya, sambil menghisap rokok Djarum Super yang terjepit diantara jari telunjuk dan jari tengah. "Kalian harus peka. Bahwa Dajjal bukan hanya sosok bengis, dahi bertuliskan kafir, tinggi besar lalu mengaku tuhan. Dajjal, adalah penguasa lalim. Seperti Amerika, misalnya, dengan sistem kenegaraan yang sangat kentara sekali berpihak pada agenda-agenda Israil, Islamophobia, blacklist negara-negara Islam memasuki negara mereka sudah sangat kentara sekali kebejatan mereka. Sistem kebencian pada islam sudah tertitah oleh Dajjal di negara paman sam itu. Dan masih banyak negara lain yang senada". Katanya, dengan sikap bijaksana yang dipaksa-paksakan.
"Lalu bagaimana Yai, untuk menghadapi ancaman-ancaman itu? Tanya sebagian dari penikmat mauidzah.
"Tidak ada cara lain, kecuali menghentikan hayalan dan selalu siap siaga menghadapi gempuran-gempuran serangan mereka dari segala arah. Atas, bawah, tengah, belakang, depan, kanan dan kiri".
"Gempuran apa? Mana? Kita aman-aman saja" Bung Khoir Sudawirat yang sejak tadi sudah meradang dengan ceramah muskil itu bertanya dengan dada membusung.
"Kamu kira, untuk menghancurkan Islam hanya dengan perang?" Jari telunjuk kiai mengarah lurus tepat pada wajah peserta pengajian dadakan yang barusan bertanya. "Goblok!". Lanjut sang kiai. "Justru ini yang paling berbahaya. Perang halus. Mereka menyerang kita dengan membunuh karakter kita. Menyelundupkan budaya barat yang bar-bar. Obat-obatan terlarang. Sosial yang menyimpang. LGBT. Kamu kira itu serangan biasa-biasa saja? Orang-orang luar, sudah begitu berani mengadu kita di negeri sendiri. Jika perang fisik, tentu Islam akan sangat ditakuti. Tetapi serangan fajar seperti ini, pemeluk agama hanif malah banyak yang terkecoh bahkan tidak sedikit yang mengabdi pada mereka. Camkan itu!"
"Hayalan yang dimaksud itu apa, Yai? Sambung yang lain.
"Hayalan pesta bergegap gempita, yang terus tumbuh di benak kalian. Ingatlah dunia ini hanya sementara!"
Para hadirin semakin khidmat dan khusuk. Bahkan, bung nikmat yang tadinya sangat menentang, harus berpikir ulang untuk bertindak seperti sebelumnya. Wejangan itu sangat merasuk ke dalam jiwa mereka. Achmad Sholeh meneteskan air mata. Abdur Rofik, tampak kuat sekali menahan tangis. Yus Rof sudah sedari tadi mengusap air mata yang terus mengalir.
Panjang lebar Kiai tak diundang itu berceramah. Bising sekali. Tepat ketika mereka memekik takbir yang di komandani kiai janggal itu, saya pergi, pindah ke tempat yang tenang nan sepi.
Di tempat baru saya berbaring, wajah itu hadir lagi. Ia tersenyum. Lalu gelap. Hilang

Comments

Popular posts from this blog

Apresiasi penanaman mangrove oleh mahasiswa STAIM Mempawah bersama pemerintah setempat