Turun naik ekonomi indonesia
Meski Konsumsi Turun, Pertumbuhan Ekonomi Semester I Diprediksi Naik
Perbaikan ekonomi indonesia
Berdasarkan data Bappenas, konsumsi rumah tangga pada kuartal I tahun ini mengalami penurunan menjadi 4,93 persen. Padahal biasanya konsumsi rumah tangga bisa mencapai 5 persen.
Hal ini tentu cukup berdampak pada pertumbuhan ekonomi, mengingat konsumsi swasta menyumbang lebih dari separuh produk domestik bruto (PDB) Indonesia, sehingga kelemahan di dalamnya akan secara langsung mempengaruhi tingkat pertumbuhan.
Pertumbuhan ekonomi kuartal I-2017 tercatat 5,01 persen. Masih di kisaran aman karena pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi tahun ini 5,2 persen.
Sementara itu, berdasarkan hasil jajak pendapat 19 analis yang dilansir dari Reuters, Minggu (6/8), pertumbuhan ekonomi di kuartal kedua 2017 diprediksi masih positif, di level 5,1 persen, lebih baik dari kuartal pertama.
Sepanjang kuartal kedua, penjualan mobil dan sepeda motor merosot. Begitu pula dari laporan keuangan emiten ritel yang menunjukkan kerugian, di antaranya Ramayana dan Hypermart. Namun hasil ini belum bisa menunjukkan kondisi ritel secara keseluruhan, karena masih bervariasi. Misalnya penjualan peralatan rumah tangga dari Ace Hardware dan barang ritel gaya hidup dari Mitra Adiperkasa (perusahaan yang mengelola merek-merek terkenal seperti Zara, Burger King dan Starbucks) masih meningkat.
Konsumsi yang turun dan melemahnya penjualan sejumlah emiten ritel disebut-sebut sebagai pelemahan daya beli masyarakat. Meski demikian, Kementerian Keuangan menyampaikan pada semester pertama, PPN mengalami kenaikan hingga 13,5 persen (year on year). PPN tersebut menggambarkan adanya transaksi jual beli di masyarakat.
Investasi langsung baik oleh investor asing maupun domestik terus tumbuh di kuartal kedua, mencapai Rp 336,7 triliun atau tumbuh 12,9 persen dibanding periode yang sama tahun 2016. Ekspor juga pulih didukung oleh kenaikan harga komoditas yang lebih baik, mencapai 79,96 miliar dolar AS atau meningkat 14,03 persen.
Selain itu, inflasi pada Juli tercatat 3,87 persen, yang terhitung rendah berdasarkan data historis selama 5 tahun terakhir. Kepala BKPM (Badan Koordinasi Penanaman Modal), Thomas Lembong mengatakan, ia sendiri masih mencari penyebab turunnya daya beli, sedangkan inflasi rendah seharusnya mendukung penjualan eceran.
"Harusnya investasi naik penghasilan naik, sehingga permintaan naik, tapi ini misteri," kata Thomas baru-baru ini di Istana Negara, Jakarta.
Sementara itu, BI telah mencoba untuk merangsang permintaan dengan menggunakan sejumlah langkah, termasuk mengurangi suku bunga acuan dan mengurangi peraturan pinjaman bank.
Pemerintah telah meningkatkan alokasi belanja untuk tahun ini, termasuk untuk infrastruktur, yang juga bertujuan mengangkat pertumbuhan.
Dalam jajak pendapat Reuters, analis yang paling optimis adalah Rahul Bajoria dari Barclays, yang memperkirakan pertumbuhan 5,5 persen pada kuartal kedua, berdasarkan perbaikan aktivitas perdagangan, belanja pemerintah dan impor modal - sebuah indikator investasi.
Gundy Cahyadi, ekonom DBS, mengatakan bahwa dia mengharapkan "pemulihan bertahap" dalam momentum pertumbuhan PDB dalam waktu dekat.
"Meski begitu, pertumbuhan PDB diperkirakan tetap di bawah 5,6 persen, rata-rata 10 tahun naik hingga 2016, setidaknya sampai pertengahan 2019,"

Comments
Post a Comment